Label

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

PELANGI DI AWAL KELABU

PELANGI DI AWAL KELABU


Cerpen Luthfi Bagas Pambudi

   
Ku rasakan detak jantungku berdetak tak menentu. Terkadang seirama dengan detakan jam, terkadang pula sekencang bunyi gendrang yang di pukul secara membahana. Bahkan dada ini terasa sakit bila jantungku berdetak seperti itu. Di tambah, deru nafasku yang sesak dan mulai bernyanyi dengan nyaring. Hal ini biasa terjadi padaku dalam waktu yang tiba – tiba, bahkan tak terduga.

Tubuhku pun mulai terasa lemas ketika aku harus berlari mengitari lapangan sekolah karena mata pelajaranku kali ini adalah Penjaskes. Tubuhku pun betambah lemas lagi ketika otakku terasa berdetak nyeri di dalam kepala ini karena sakit ku kambuh secara tak terduga, dan terik matahari yang mulai menyengat kulit di siang hari.
   
Seorang kakak kelas berbaju putih abu – abu yang ku suka pun tampak mendekat, mencoba menangkap tubuh yang lemas ini. Nafasnya yang hangat menerpa wajahku. Aroma tubuhnya yang maskulin menjadi obat penidur untukku, di dalam dekapannya kini.
   
Beberapa saat berlalu, mimpi gelapku terusik oleh langkah – langkah kaki yang gaduh di sekitarku. Perlahan mulai kubuka kedua mata yang terasa berat ini. Dan hal pertama yang ku lihat , meski dalam keadaan pusing dan kabur adalah langit – langit gedung yang bergerak cepat di atasku, seirama dengan tubuhku yang dibawa di atas ranjang Rumah Sakit oleh orang – orang yang ku kenali sebagai sahaba – sahabatku, dan beberapa orang perawat cantik yang membawa infus sembari berlari, mencoba menyamai kecepatan langkahnya denganku di atas ranjang berjalan ini.

Tubuhku pun di bawa ke dalam sebuah ruangan oleh para perawat itu, sementara sahabat – sahabatku di tahan di luar ruangan oleh 2 perawat lainnya yang menunggu di luar ruangan. Di dalam ruangan, hidung dan mulutku di tutupi oleh sebuah alat bantu pernafasan yang lumayan membantuku. Infus kembali di pasang di tanganku, dan membuatku jadi panik dan gelisah sendiri.
   
Seorang pria setengah baya masuk ke dalam ruangan dengan mengenakan jas putih dan beberapa perlengkapan dokternya yang di jadikan satu di dalam sebuah tas hitam yang ia bawa. Aku langsung memejamkan mata ketika Sang Dokter mengangguk, memberikan instruksi kepada dua perawat wanita yang kini berada di kanan – kiriku.
   
Selama memejamkan mata, sempat terbayang wajah – wajah orang yang ku sayang. Wajah tante yang menjadi wakilku, wajah sahabat – sahabatku, dan tentu saja, wajah orang yang aku cintai, Kak Dika.
   
Namun, ketika seseorang memasukkan ujung tajam dari jarum suntik ke kulitku, wajah – wajah itu segenap berubah menjadi keharuan hingga ku sadari beberapa tetes air mataku jatuh dan membasahi pipiku. Wajah – wajah itu berubah sedih dan penuh keharuan. Bahkan, sempat terlintas kenangan – kenangan pahitku. Terutama, kenangan pahitku tentang kak Dika yang sampai saat ini tak mengetahui bahwa aku sangat menyayanginya. Tapi, sayang, ku tahu ia telah dimiliki wanita cantik yang kutahu adalah kekasihnya.
   
Jarum suntik pun di keluarkan, dan mata serta detak jantung yang menyakitkan dalam setiap detakanannya ini pun perlahan menjadi pusat pemeriksaan oleh Sang Dokter dan beberapa perawatnya. Sebuah alat pendeteksi jantung yang berada di sebelahku pun berbunyi aneh, tak seperti bunyi pada jantung orang yang normal.
   
Sempat ku lihat sang Dokter menggelengkan kepala kepada tatapan sedih para perawat, yang masih berdiri di sisiku itu. Aku pun kembali menutup mata dan mencoba untuk melihat wajah malaikat yang akan menyabut nyawaku, karena penyakit leukimia yang ku alami ini sudah benar – benar tak bisa di sembuhkan lagi. Padahal, seudah banyak usaha yang ku lakukan bersama tante dan sahabat – sahabatku untuk mencari obat penyembuh dari penyakit ini. Tapi ternyata, Tuahn lebih memilih untuk menjemputku di waktu yang tepat ini. Dimana, masih ada orang – orang yang ku sayangi, dan yang menyayangiku. Dan, masih ada dunia yang harus ku jelajahi ini.

Dan, suara pintu yang terbuka dengan keras di ruangan itu pun mengagetkanku hingga membuat mataku yang semula terpejam, malah terbuka hingga sesaat ku lupakan pikiran – pikiran ku tadi. Seorang wanita cantik bagai malaikat masuk dan langsung berlari memelukku sangat erat. Hingga tak mungkin bisa terlepaskan. Wanita itu menangis di dalam dekapan sayangnya padaku. Ya, ialah tanteku. Orang yang paling ku sayang di dunia ini, karena aku hanya sebatang kara tanpa dirinya.
   
Bisa ku rasakan suasana haru yang pecah di ruangan ini. Satu persatu sahabat ku masuk dengan mata yang basah dan lebam oleh air mata yang mereka keluarkan. Semua langsung mendekatiku dan memelukku secara bergantian dengan sangat erat, layaknya aku akan segera pergi meninggalkan mereka. Yang memang benar adanya.
   
Ku rasakan jantungku mulai melemah, seirama dengan nada yang dikeluarkan oleh alat pendeteksi jantung yang berada di sampingku. Tapi, seseorang datang terlambat dan menghampiriku, hingga membuat jantungku berdetak normal karena keberadaannya. Senyum manisnya melemaskan otot – ototku yang sebenarnya akan tak berfungsi lagi.
   
Semua yang melihat keadaanku langsung mengerti dan meninggalkan ku berdua saja dengannya, di dalam ruangan yang berbau obat, dan ruangan yang di penuhi dengan nada – nada yang di keluarkan oleh alat pendeteksi jantung, dan tentu saja deru nafasku yang bergetar olehnya. “Hey. . .!” itulah kata pertama yang keluar dari bibir manisnya, yang langsung memecah kesunyian di antara kami. Wajahnya yang rupawan dengan lesung pipit dan model rambut yang maskulin itu tampak seperti wajah malaikat bagiku, bagi hatiku. “Hmmm. . .” kakinya bergerak salah tingkah, tapi itu tak mengurangi semua keindahan yang ada pada dirinya.

“Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ku bicarakan padamu.” Tubuh ku yang semula lemas, kini terasa terlonjak ketika tangan lembut dan kekarnya menggenggam tanganku dengan penuh kasih. “Sebenarnya, aku dan Viola hanya sekedar teman. Dan, tak ada hubungan apa pun yang melebihi itu.” Ia diam sesaat, seraya menatap lekat mataku. “Sebenarnya, memang benar kalau dia pernah menembakku. Itu pun 2 minggu yang lalu.”
   
Air mataku langsung menetes deras, Jntungku berdetak kencang dengan membahana, ketika ia berkata seperti itu. Tapi, aku tetap menunggu perkataannya yang selanjutnya.
“Tapi aku menolaknya dan memberikan hatiku pada seseorang. . . “ perkataannya terhenti ketika dari dalam tas, ia mengeluarkan sebuah album foto mini, dan ia tunjukan beberapa foto yang membuatku terkejut bagai tersengat listrik. “Seseorang yang mengumpulkan foto – foto ini untukku.” Mulutku tergagap ketika ia berkata seperti itu. Dalam hati aku bertanya – tanya, dari mana ia mendapatkan kumpulan foto – fotonya yang selama ini ku dapatkan dan ku kumpulkan?

“Aku mendapatkannya dari sahabat – sahabatmu.” Katanya pelan, seperti membaca pikiranku. “Mereka memberikanku semuanya. Bahkan bukan ini saja yang ku tahu. Semua surat dan cokelat yang tak berketerangan pengirimnya pun aku tahu dari siapa. Kamu, Susan. Tapi, kenapa kamu gak beritahu aku saja yang sebenarnya? Apa kau tak tahu kalau aku. . . . “ aku benci dengan jeda yang ia selipkan di antara kata – katanya. “Aku juga sayang sama kamu. Aku sebenarnya ingin menembakmu sudah lama. Tapi aku tak pernah menemukan waktu yang tepat.”
   
Senyumnya membuat bibirku juga melengkung senang dan puas dengan hasil kerja keras ku yang selama ini tak sia – sia. Terlebih, ketika ia memeluk tubuh lemahku ini, beberapa memori dalam benakku yang mengingatkan ku tentang usaha bersama sahabat – sahabatku untuk mencari perhatian Kak Diki padaku.
“Jadi, dengan ini, aku harap kamu bisa berjuang dalam melawan penyakitmu ini. Karena aku akan ada terus di sampingmu sebagai. . . . Sebagai seorang kekasih.”
   
Air mataku kembali menetes, bahkan lebih deras lagi. Ini semua bagai pelangi di awal kelabu. Dimana, Cinta Kak Dika datang padaku, tepat ketika ajal mulai menjemputku. Tapi, secara tiba – tiba, di suasana yang haru itu, jantungku pun terasa berdetak menyakitkan di dalam dada ini, dalam frekuensi detakannya yang pelan. Sempat ku lihat cahaya keperakan di balik tubuh Kak Dika, serta sekelebat bayangan berwarna hitam pekat di sekitarku

Dan, kata terakhirku yang menuntaskan semuanya pun dapat keluar dari mulut yang semula bisu ini. “Kak. . . Aku sayang kakak. Aku nggak ingin pergi meninggalkan kakak. Aku butuh kakak di sampingku. . . .  Tapi, Susan mohon maaf. . . Karena ia telah menjemputku. Lihatlah cahaya keperakan itu, kak. Itulah pintu yang akan ku lalui. Selamat tinggal, Kak. Salam untuk tante dan sahabat – sahabatku.”
“Susan! Kamu harus kuat! Kamu harus bertahan! Aku nggak ingin kamu pergi! Susan! Tolong, bukalah matamu!!” suara Kak Dika yang histeris menjadi obat penidur ku untuk selamanya.

»»  READMORE...

PELANGI CINTA AISYAH

PELANGI CINTA AISYAH
Cerpen Mas Jolang
Minggu, 18 Maret 2012


Rintik hujan turun sore itu. Sepasang mata bola menerawang jauh di balik jendela kaca rumah kecil. Diam, tak bergerak. Pandangan pun menerobos jauh tak menentu.
“Aisyah.. Aisyah..” suara parau terdengar dari luar kamar, dan menyadarkan lamunan panjang gadis itu…
“iya abah” jawab aisyah seraya bergegas keluar dari kamarnya yang sempit.
“ ada apa bah” jawab aisyah setelah sampai diruang tamu.
“kamu tidur aisyah? Dipanggil dari tadi tidak jawab” Tanya abahnya sedikit membentak.
“tidak bah”
“kamu melamun ya? Atau memikirkan lagi laki-laki tak bertanggung jawab itu?”Tanya abahnya lagi.
Aisyah hanya terdiam mendengar perkataan abahnya barusan.
“buat apa kamu memikirkan lelaki itu? Jelas-kelas dia sudah lupa dengan kamu” bentak abahnya lagi.
“bang fahri bukan orang seperti itu bah, bang fahri pergi kan juga buat kepentingan kami bah” aisyah melakukan pembelaan.
“alah, tai kucing! Kalau dia tidak seperti itu, harusnya dia sudah dating dan melamar kamu sekarang. Tapi buktiya apa? Satu surat saja tidak pernah sampai kepadamu sekadar memberi kabar. Atau jangan-jangan dia sudah melupakanmu dan mendapat gadis baru disana” abahnya kembali bersuara.
“abah kanapa bilang seperti itu bah?” jawab aisyah.
“ahh, sudahlah. Mulai sekarang lupakan fahri karena 2 minggu lagi aka nada anak kenalan abah yang kemari untuk ta’arufan denganmu dan membicarakan lamaran”
“abah.! Aisyah cuma mencintai bang fahri bah”
“ sudahlah, abah tidak mau tahu, karena menurut abah itu yang terbaik buatmu” sanggah abahnya yang kemudian meninggalkannya diruang tamu bersama uminya.

Aisyah hanya terdiam, tampak butiran airmata meleleh dari matanya yang bulat..uminya mendekati dan mengelus kepala aisyah yang ditutupi kerudung.
“ aisyah, umi mengerti perasaan mu. Tapi abah juga tidak salah, dia bermaksud baik karena tidak ingin melihatmu menderita. Apalagi umurmu juga sudah cukup untuk menikah. Tahu sendiri kan bagaimana pandangan orang kampong terhadap gadis yang telat meikah ?
“ entahlah umi, aisyah ingin berfikir dulu.”
“aisyah ke kamar dulu” jawab aisyah lagi dan meninggalkan umu sendiri.

Sesampainya dikamar, tangis aisyah pun pecah meski tanpa suara. Buliran air mata semakin deras mengalir di pipinya yang kuning dan bersih. Sejanak ia pandangai foto fahri kekasihnya. Lelaki yang sudah sejak 3 tahun mengisi hatinya. Ia usap berulang kali foto tersebut..
“bang fahri, aisyah rindu bang, kenapa abang tidak juga mengirim kabar? Sebenarnya abang pergi kemana bang ?” ratap aisyah.
Lama aisyah memandangi foto kekasihnya. Memorinya pun kembali pada kenangan 2 tahun lalu sebelum lelaki itu pergi meninggalkanya.
Masih lekat diingatanya saat bersama fahri, memadu kasih diatas bukit dekat rumahnya, berjalan-jalan melewati pematang sawah, atau saat ia duduk di bonceng sepeda fahri berkeling kampung atau kepasar

Hari telah beranjak petang, malam pun tiba di dusun. Namun hujan yang mengguyur dari sore belum juga reda, bahkan bertambah lebat. Aisyah masih belum juga beranjak dari depan foto kekasihnya.
“aisyah, kamu tidak makan nak?” suara umi membuyarkan lamunan panjang aisyah akan fahri.
“masih belum lapar umi”jawab aisyah dari dalam kamar.
“ya sudah, tapi jangan lupa sholat nak” kata umi lagi yang kemudian meninggalkan pintu kamar aisyah.

Entah sampai berapa lama aisyah tertegun, mengingat semua yang telah dilewatinya bersama fahri sampai pada akhirnya ia pergi meninggalnya. Hujan masih mengguyur diluar, memberikan musik malam lewat tetesan air yang jatuh pada genteng rumah dan daun-daun pohon disamping rumah aisyah. Pagipun menyambut meski gerimis kecil mewarnai hari itu. Rumah asiyah tampak sepi, hanya ada aisyah sendiri di rumah. Abah dan umi sudah berangkat kepasar untuk berdagang, tinggal aisyah sendiri yang mengurus rumah setiap kedua orang tuanya ke pasar. Seperti pagi ini, aisyah sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya. Setelah itu aisyah duduk di kursi dan kembali ia hanya terdiam. Sesekali helaan nafas panjang keluar darinya.
“bang, kenapa lama sekali, kenapa abang tak pernah memberi kabar pada  aisyah?” katanya lirih.
“bang, haruskah aisyah mengakhiri semuanya? Mengikuti kemauan abah?
“Atau jangan-jangan benar yang dikatakan abah” aisyah berbicara sendiri.
“ahhh.. tidak, bang fahri bukan orang yang seperti itu. Aisyah percaya pada bahwa abang akan datang kembali.”
“bang fahri melakukan itu demi kita” katanya lagi
Sejurus kemudian ingatannya kembali pada sore itu, manakala keduanya berada di bukit menikmati pelangi yang muncul setelah hujan. Pertemuan terakhir diantara mereka sampai pada akhirnya sudah 2 tahun berlalu.
“aisyah, maafkan aku. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi aku harus pergi”
“ maksud abang apa?tanya aisyah.
“mulai sekarang kita harus berpisah. Aku tahu cintamu tulus padaku, demikian juga aku. Tapi itu saja tidak cukup. Dan itu juga yang ada difikiran abah. Karena itu aku harus pergi aisyah”
“ tidak bang, aisyah tidak mau” sambil menangis aisyah menjawab kekasihnya.
“aisyah tidak ingin apapun, hanya cinta bang fahri saja sudah cukup buat aisyah”
“bang fahri tahu aisyah, tapi dimana tanggung jawab abang nanti. Aku tak pernah marah dengan abah. Abah benar, pasti dia ingin anak gadisnya dapat yang terbaik, jadi besok bang akan merantau dulu”
“ tapi bang, aisyah takut. Aisyah takut abang akan pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali pada aisyah” rengek aisyah meminta fahri untuk tak pergi.
“jangan khawatir aisyah, abang pasti kembali. Aku pasti akan pulang dan kembali padamu”
“tapi untuk berapa lama bang ?aisyah tak tahu pa aisyah kuat? Aisyah memandangi wajah kekasihnya.
“percayalah aisyah. Kita pasti bisa. Aku tahu ini sulit buatmu, demikian juga dengan abang. Tapi ingat aisyah, abang akan berjuang demi kamu. Jadi percayalah, percayalah pada hatiku, percayalah pada cintamu. Insyaalah semua akan baik-baik saja dan indah saatnya nanti buat kita.” Fahri berusaha meyakinkan aisyah dan memeluknya untuk beberapa saat.
“bang, kalau boleh memilih, aisyah ingin seperti ini bang, berdua selamanya. Jadi aisyah mohon jangan pernah pergi mesti itu untuk aisyah” kembali aisyah memohon.
“ dengarkan abang aisyah, kamu lihat pelangi itu?” kata fahri sambil menunjukkan pelangi pada aisyah.
“iya bang, aisyah lihat. Indah ya?
“seperti  pelangi itu aisyah, cinta kita akan indah seperti pelangi itu. Dan ingatlah, selama pelangi itu masih berwarna, selama itu pula masih ada cinta dihatiku untukmu aisyah. Jadi tunggulah abang aisyah”
“ baik bang, aisyah percaya pada abang” jawab aisyah..
Setelah pelangi menghilang merekapun pulang, dan setelah itu tak pernah sekalipun aisya bertemu dengan fahri.

Waktu terus beranjak. Sudah hampir jam 9 pagi tapi gerimis belum juga reda. Kala itu memang musim hujan, jadi takmheran kalau hujan juga betah sekali untuk berlama-lama membasahi bumi setelah lama menantikan hujan karena kemarau. Tak lama kemudian gerimis pun berhenti dan matahi memampakkan dirinya menyinari dusun yang sedari kemarin sore diguyur langit yang menangis.
“ ah, sudah reda. Pasti sebentar alagi ada pelangi” gumam aisyah.
“Sebaiknya aku ke bukit, menikmati pelangi” aisyah berbicar sendiri dan segera bergegas ke bukit untuk menikmati pelangi.
“ pohon itu, pohon tempat kami bersandar waktu itu” katanya kembali.
Lama ia memandangi pelangi yang semakin lama semakin jelas warnanya.
“bang fahri, andaikan abang ada disini sekarang” aisyah kembali bergumam sambil memandangi pelangi. Sesaat kemudian ia seperti melihat wajah fahri tersenyum diantara warna-warna pelangi. Mengingatkannya kembali akan kenangan itu, dan kemudian ia berdiri ia tersenyum seraya berkata seolah kepada pelangi itu. Sejurus kemudian ia berteriak.
“ baiklah bang, aisyah percaya pada abang, aisyah masih melihat pelangi itu. masih ada 7 warna pada pelangi itu bang, aisyah percaya masih ada cinta dihati bang fahri untuk aisyah. Abang tak usah khawatir, aisyah akan menunggu abang  disini meski itu untuk waktu yang lama. Aisyah hanya untuk bang fahri” teriak aisyah yang kemudian diikuti tangisnya yang memecah kesunyian bukit dipagi itu.


»»  READMORE...